Aku kira, aku sudah berhasil melupakan segala macam tentangmu. Kupikir aku
siap membuka hatiku untuk seseorang yang baru. Aku yakin bahwa aku siap membuka
mata dan hatiku pada orang baru yang akan membahagiakanku. Usahaku begitu keras
untuk mematikan perasaan ini. Segalanya memang tak mudah karena perjuangan yang
kulakukan terus berlanjut. Tak mudah mematikan perasaan pada seseorang yang
bisa kita temui setiap hari. Kamu sudah jadi bagian dari hari-hariku, hampir
setiap hari aku melihatmu. Perubahan yang begitu berbeda membuatku sulit
menerima bahwa kita tak lagi sama. Aku melihatmu setiap hari dan untuk
menganggap bahwa kita tak pernah punya perasaan yang spesial sungguh bukanlah
hal yang mudah.
Kamu berbeda dari yang lainnya. Kamu sederhana, apa adanya, misterius, dan begitu sulit untuk ditebak. Wajahmu bukan pahatan seniman kelas dunia ataupun bikin pabrik yang jelas-jelas sempurna. Aku tak memikirkan bagaimana penampilanmu dan bagaimana caramu menata rambutmu. Aku mencintaimu karena begitulah kamu. Kamu yang sulit kutebak tapi begitu manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang menggemaskan dalam keadaan yang bahkan sulit kujelaskan. Aku sangat mencintaimu dan sekarang pun masih begitu. Sadarkah kamu?
Hari-hari kulewati dengan banyak pertanyaan. Apakah perasaanmu sedalam yang kuharapkan? Aku sedikit menangkap isyarat itu. Kamu mengajakku bicara dalam percakapan manis kita di pesan singkat. Kamu menghangatkanku di tengah dinginnya malam dengan candaan kecilmu. Bagaimana mungkin aku bisa begitu mudah melupakan hal-hal spesial yang sempat kulewati bersamamu?
Kamu bisa dengan mudah melupakan segalanya. Kebersamaanmu dengannya sudah cukup menjawab semuanya. Aku bukanlah sosok yang kauinginkan. Aku bukan sosok yang kauharapkan. Menyakitkan bukan jika keberadaanku tak pernah kauanggap meskipun aku selalu hadir dalam tatapanmu? Aku berusaha semampuku untuk membahagiakanmu, namun nampaknya usahaku tak begitu terlihat di matamu.
Dulu, kita yang banyak berbincang, kini jadi banyak diam. Setiap hari aku
berusaha menerima kenyataan dan perubahan itu. Setiap hari aku mencoba
meyakinkan diriku bahwa suatu saat pasti aku bisa melupakanmu. Ketika melihatmu
dengannya, ada luka yang tergores lagi. Kamu belum benar-benar kumiliki, tapi
mengapa aku bisa sakit begini?
Pertemuan kita tadi seperti semangat yang kembali menemukanku di sudut yang
dingin dan gelap. Aku selesai menyanyikan lagu sakit hati yang kuharap bisa
sampai ke telingamu. Aku turun panggung dan menemukan sosokmu sedang duduk
termenung. Kulambaikan tanganku dan mata kita bertemu.
Kamu tersenyum.
Sederhana sekali. Ternyata, dari banyaknya pengabaian dan rasa sakit yang
kauberikan; aku masih bisa mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar