Jumat, 08 April 2016


Jika cinta memang tak harus memiliki, lantas mengapa betapa sulitnya mengikhlaskan? Mengapa dipertemukan dengan kenangan manis dan ditinggalkan dengan kenyataan pahit?


Kau tahu? Betapa bahagianya aku bisa bersamamu, betapa aku merekam setiap kejadian indah setiap kali bersamamu, betapa segala sesuatu tentangmu tersimpan rapih dalam memori ingatanku. Tak salah bukan jika sosokmu selalu hadir dalam setiap hari - hariku? Tapi mengapa semua harus berakhir sesakit ini?

Langkah kaki yang dulu selalu berjalan beiringan, kini berjalan ke arah yang berbeda. Senyum yang biasanya kau berikan untukku, kini entah kau berikan untuk siapa. Bertatap pun tidak untuk saling menyapa, tidak untuk berbagi rasa dan bertukar pikiran seperti dulu. Hanya tatapan kosong yang tak berlangsung lama dan sedalam dulu. Tatapan itu kini tak memilik arti lagi, tak menggambarkan perasaan yang dulu pernah kau berikan padaku.
Semua memang salahku, jika saja hal itu tak pernah ku lakukan, mungkin kini aku masih bersamamu, melakukan semua hal bersama. Kini tak pernah lagi ku dengar suaramu, jangankan untuk menyebut namaku, berbicara sedikit saja padaku, sudah tak pernah kau lakukan lagi.
Salahkah bila kini aku rindu? Salahkah bila aku ingin kembali?
Duhai pujaan...
Sudikah kau untuk menerima ku kembali?
Memulai hari baru bersama, bersama komitmen yang kita buat? Menghapus semua luka dalam hatimu yang telah kubuat dan kini aku bersedia tuk hapuskan semua luka itu. Lalu, merajut cinta dan kasih bersama.
Aku masih disini, menunggumu yang entah akan datang atau tidak. Dan entah sampai kapan.
 
-RN


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

b:section-contents id='footer-1'/>b:section-contents id='footer-2-1'/>b:section-contents id='footer-2- 2'/>b:section-contents id='footer-1'/>b:section-contents id='footer-2-1'/>b:section-contents id='ooter-2-2'/>