Hujan itu datang lagi.
Tapi kini ia datang sendiri, tanpa ditemani petir dan kilatnya.
Kemana petir dan kilat yang biasanya membuat aku membenci hujan?
Kini aku kembali tenggelam dalam gemerciknya air.
Tetesan air yang jatuh mengalunkan nada nada indah.
Mengantarkan ku pada kenangan bersamamu.
Aku muak. Aku benci.
Untuk apa aku terlena kembali pada kenangan itu?
Untuk apa?
Berkali kali hati ini tergores, karena ketidakpedulian mu padaku.
Tapi tetap saja aku terus menunggu.
Berharap keajaiban akan datang.
Aku lelah dengan semua ini.
Mengapa tak kau rasakan betapa sakitnya hati ini menahan rindu?
Menunggu dan berharap kau datang untuk menyapaku.
Tapi kau tak lagi peduli. Tidak.
Karena mungkin bagimu, bagaimana pun aku, seberapa sakit pun aku, sebanyak apapun air mata itu jatuh, aku bukan urusanmu lagi.
Sedih memang jika ternyata benar seperti itu adanya. Tapi kau tahu? Aku masih tetap disini. Dengan perasaan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar